Tara Basro
Pengalaman Gugup Tara Basro Saat Syuting Film Perdananya

Updateterbaru.com, Aktris Tara Basro membagikan kisah dirinya yang gugup saat memerankan film perdananya. Saat itu Tara membintangi film Catatan (Harian) Si Boy pada tahun 2010 silam. Diakui, saking gugupnya, dia sampai tak bisa berkata-kata.

“Aku berperan sebagai adiknya Ario Bayu. Hari pertama syuting aku sampai gelagapan, sampai enggak bisa keluarin dialog,” kata Tara Basro dalam diskusi melalui fitur live Instagram bersama sutradara Joko Anwar, Minggu 29 Maret 2020.

Artis berkulit sawo matang itu mengaku gugup karena tak pernah membayangkan lokasi syuting ternyata dipenuhi banyak orang termasuk para kru. Itu menambah tekanan besarnya ketika berakting.
 “Ternyata pas hari H dengar, ‘Kamera rolling action’, benar-benar kayak takut. Enggak kebayang begitu besar pressure di depan kamera,” tutur dia.

Tara Basro mulai mengawali kariernya sebagai aktris di usianya yang masih 19 tahun. Saat ini ia sudah lusinan film yang dia perankan, antara lain Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot, A Copy of My Mind hingga Perempuan Tanah Jahanam.

Sebagai seorang aktris Tara mengaku  bahwa dirinya sangat selektif dalam memilih sosok sutradara sebelum memutuskan bergabung dalam sebuah proyek film. Hal itu dijelaskannya dalam sesi tanya jawab melalui Instagram-nya.

“Aku kalau terlibat dalam sebuah proyek, paling utama lihat sutradara, kedua skrip,” kata Tara.

Tara menuturkan bahwa sutradara ibarat kapten dalam sebuah kapal. Dia harus bisa membawa timnya mengarungi samudra agar sampai ke tempat tujuan. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya untuk sangat selektif  memilih siapa sutradara yang akan memimpinnya mencapai tujuan yang sama yaitu kesuksesan sebuah film.

“Ibaratnya di proyek aku lost dan gak confidence pasti aku cari sutradaraku. Kalau sutradara enggak bisa utarakan visi dan cara kerjanya tidak sama dengan kita aku, big no,”tuturnya.

Tara juga akan memilih sutradara yang memiliki pemahaman sosial yang sama dengannya. Terlebih jika pandangan tersebut dijadikan skenario dalam proyek film yang bakal digarap. “Misalkan cerita dan sutradaranya punya pandangan berbeda soal feminsime dan hal sosial lainnya, rasanya akan sulit bekerjasama. Jadi sutradara aku milih banget,” tandas Tara Basro.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here