Lika-liku Perjalanan Gus Miftah
Lika-liku Perjalanan Gus Miftah

Updateterbaru.com, Nama Gus Miftah belakangan menjadi sorotan sebab menjadi mualafnya seorang Deddy Corbuzier erat kaitannya dengan ulama muda ini.

Pria dengan nama lengkap Miftah Maulana Habiburrahman ini merupakan putera Jawa kelahiran Sumatera alias Pujakesuma. Dia memang memiliki darah Ponorogo, tetapi lahir di Desa Adiluhur, Jabung, Lampung Timur.

Belum banyak yang tahu tentang pasang surut kehidupannya. Sebelum sepopuler sekarang, Ustaz Miftah ini pernah menjalani kehidupan yang berat hingga menemukan titik balik dan menjadi seperti sekarang.

Pernah tinggal di Masjid

Ulama terkenal ini pernah menimba ilmu pendidikan agama di Pondok Pesantren Bustanul Ulum Jayasakti, Lampung Tengah. Lulus dengan predikat peraih nem tertinggi sebagai santri se-Provinsi Lampung, Gus Miftah pindah ke Yogyakarta di tahun 1999. Namun, dirinya sempat bingung harus menetap di Surabaya atau Yogyakarta.

Pria 37 tahun ini hanya berbekal uang Rp 1 juta, beasiswa ketika di Lampung, untuk mendaftar di kampus IAIN atau dikenal dengan UIN Sunan Kalijaga saat ini dengan jurusan Kependidikan Islam di Fakultas Tarbiyah.

Di Yogyakarta, dirinya terkatung-katung tidak punya tempat tinggal. Ustaz berambut gondrong ini juga enggan meminta uang kepada orangtuanya di kampung. Dirinya hanya meminta sang Ibu mengirimkan alfatihah untuk dia.

Hidup sebatang kara membuat Gus Miftah akhirnya menetap di Masjid Baiturrahman di Taman Siswa sebaai marbot dan tukang kebun. Tentu saja kehidupan baru di kalangan Muhammadiyah membuat dirinya harus beradaptasi. Sebab, dia lahir di kalangan Nahdliyin.

Ustaz berusia 37 tahun ini memang punya semangat pekerja keras, untuk makan dan uang saku sehari-hari, Miftah Maulana harus bekerja sebagai pedagang aksesoris di Alun-alun Utara Yogyakarta. Dia mengaku berjualan adalah caranya untuk tetap eksis, bukan untuk sukses.

Gus Miftah juga pernah punya pengalaman menjadi penarik becak selama 6 bulan. Pengalaman ini serta kemampuannya berboicara di depan umum membuat dirinya ditunjuk menjadi Ketua Paguyuban Pengemudi Becak Yogyakarta yang berkantor di daerah Giwangan.

Namun, pekerjaan sebagai penarik becak harus dia hentikan lantaran tidak cocok dengan dirinya. Ustaz berdarah Ponorogo ini pernah terkena penyakit tifus dan demam berdarah sehingga sempat di rawat di rumah sakit. Uang tabungan ludes untuk pembayaran pengobatan, bahkan dia terpaksa meminjam uang amir masjid untuk mencukupinya.

Dirinya kemudia bertemu dengan Tutut Soeharto di tahun 2004 dan mengajaknya untuk bergabung ke Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB). Gus Miftah ikut mencalonkan diri menjadi anggota legislatif. Sayangnya, upaya tersebut kandas karena tidak meraih suara yang cukup untuk bisa duduk menjadi wakil rakyat.

Merajut silaturrahami adalah investasi termahal

Mengenal Gus Miftah Lebih Dekat
Mengenal Gus Miftah Lebih Dekat

Satu hal yang disadari oleh ustaz kelahiran Lampung ini adalah bahwa investasi paling mahal adalah silaturahmi antar sesama manusia. Hal ini juga disampaikan oleh Rasulullah SAW, bahwa silaturahmi bisa memanjangkan umur dan memudahkan rezeki.

Bergabung dengan PKPB ternyata membuat jaringannya luas dan usahanya tidak sia-sia, meskipun tidak lolos menjadi wakil rakyat. Kolega-kolega yang ditemuinya membuat dia bertemu dengan salah satu pemilik lembaga kursus Primagama.

Saat dia butuh uang untuk modal menikah, dia malah diberikan rezeki yang melimpah dengan ditawari menjadi kepala cabang Primagama dengan posisi Manager Outlet untuk wilayah Cakung, Jakarta Timur.

Dia hijrah ke Ibukota bersama istri dengan gaji hanya Rp 1,3 juta di tahun 2005. Sempat ragu dengan kondisi hidup di kota besar, tetapi Ustaz Miftah membulatkan tekadnya. Setahun berselang, dia bertemu almarhum Gus Dur di Ciganjur. Dia sering sowan ke Gus Dur dan diiberikan dua nasihat. Balik ke Lampung dan membesarkan Ponpes Bustanul Ulum, atau balik ke Yogyakarta dan membangun pesantren.

Dua pihal itu membuat dirinya dilema. Bahkan ketika anaknya lahir, ia harus kehilangan pekerjaannya di Primagama yang memaksanya untuk pindah ke Yogyakarta, di rumah mertuanya. Malang tak dapat dihindari, rumah mertuanya roboh terkena gempa.

Sempat Ditipu Teman Dekatnya

Gus Miftah juga sempat menggadaikan sertifikat milik mertuanya untuk mendapatkan modal awal sebesar Rp 35 juta. Dana yang harusnya digunakan untuk modal usaha bersama temannya, malah dibawa kabur bahkan oleh teman dekatnya sendiri. Dia mengaku mertuanya malu memiliki menantu seperti dirinya.

Memilih fokus pada agama Islam

Akhirnya dia sampai pada keinginan untuk fokus pada agama Islam saja. Dirinya tidak akan berbisnis atau pun bekerja. Benar saja, di tahun 2010, dia mendapat rezeki dari jemaah pengajian sertifikat tanah seluas 1.500 meter persegi. Dia pun bermimpi untuk membangun ponpes dengan konsep tidak memungut biaya dari santri, tidak ada pungutan maan atau minum dan tidak memungut biaya pendidikan. Inilah cita-cita yang ingin diwujudkannya untuk berjuang di jalan Allah.

Pada 2012, Gus Miftah membuat pengajian tanpa adanya panitia penyelenggara, tanpa kotak infaq, dan tanpa proposal. Dan ini juga terealisasi. Bahkan pengajiannya sudah berjalan 5 tahun dengan jemaah yang hadir sekitar 5000-7000 orang. Semuanya tidak dipungut biaya, dan tidak membuatnya bangkrut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here